Saturday, December 29

PENGHUJUNG TAHUN 2018

Penghujung tahun 2018 nih. Gw muak ada di rumah tapi gw ngga tau harus kemana. Gw udah ngga punya temen yang bisa diajak kabur tiba-tiba dan gw udah ngga punya kendaraan yang bisa membawa gw pergi kemana hati ini ingin pergi.

Kayaknya kondisi gw ngga punya kendaraan ini akan menghambat gw untuk maju deh. Maju secara pengalaman. Pengalaman apa pun. Karena gw belum menemukan formula yang tepat, bagaimana bisa pergi dengan nyaman dan sesuai budget.

Opung gw lagi di rumah. Gw seneng sih ada opung di rumah, tapi lama-lama kesel juga. Setiap duduk bareng, apa pun momennya, yang dibahas adalah jodoh. 

TAIK!

Gw muak dan gw semakin males duduk bareng opung gw. Tapi kembali lagi, etikanya ngga bagus membiarkan tamu di rumah kesepian. Anggap lah opung gw tamu karena memang hanya beberapa saat tinggal di rumah. Kan bahaya juga kalo sampe opung ngga betah di rumah.

Gw pun mulai males hadir ditengah tamu-tamu yang dateng ke rumah dengan pembahasan yang hampir sama. Gw males kalo ada orang yang mulai mencampuri wilayah pribadi gw. Tapi disisi lain, kita sebagai tuan rumah harus ramah sama tamu. Tapi jadi tamu juga jangan rese bisa ga sih?

Iya gw tau mereka keluarga dan cukup dekat. Tapi gw ngga suka, lo mau apa?

Gw lagi berfikir untuk kabur dari rumah ini loh. Kabur dalam arti bukan jadi anak pembangkang, cuma ingin melarikan diri aja dari kehidupan sosial berkeluarga yang kondisinya sedang tidak menyenangkan untuk gw.

Gw pengen ngekos tapi penghasilan tidak mendukung untuk hidup mandiri. Gw sedang berfikir untuk kesekian kalinya, pindah kantor. Kantor gw keterlaluan sih untuk masalah kesejahteraan. Cuma santainya yang buat gw bertahan. Makanya untuk kesekian kalinya, sedang gw pikirkan nih bertahan atau tidak.

Walau sebelumnya seperti ada harapan dan angin segar tapi ko seperti lenyap harapan dan angin segar itu. Hah, gw ada rencana menghadap ke boss sih, tapi belom terlaksana. Semoga awal tahun depan bisa ada kesempatan bertemu si boss. 

Ngapain? Ngga tau, mau menghadap boss aja. Menghadap Tuhan terlalu ngeri soalnya.

Sunday, December 23

MENGGESER PAPAN DARI KEBUTUHAN PRIMER

MILENIAL MILENIAL MILENIAL !!!

Satu kata tentang milenial ini sedang menggoncang seluruh penjuru dunia sepertinya, tidak terkecuali Indonesia. Bahkan sampai sisi pemerintah pun sedang gencar mencari perhatian kaum milenial.

Kalian tau kan milenial itu apa? Kalo ngga tau, monggoh cari tau dulu apa itu milenial. Kalo udah tau, mari kita lanjutkan.

Banyak hal yang bisa dibahas tentang milenial, tapi kali ini yang mau gw bahasa adalah isu bahwa milenial menggeser papan dari kebutuhan primer.

Kalo lo pernah SD dan SDnya di Indonesia, pasti lo memperlajari bahwa manusia memiliki 3 kebutuhan primer yaitu sandang (pakaian), pangan (makanan) dan papan (tempat tinggal). Nah isu bahwa milenial menggeser papan dari kebutuhan primer ini pun ramai dibahas.

Gw termasuk milenial dan entah kenapa gw bangga banget menjadi bagian generasi milenial. Tapi gw ga terima nih dengan pernyataan bahwa milenial menggeser papan dari kebutuhan primer. 

Menurut hemat gw, gini ya..

Punya rumah atas nama sendiri itu ga harus di usia muda kan? Ketika kita ngontrak rumah, sewa apartemen atau bahkan tinggal dirumah orang tua, itu bukan berarti kita tidak memikirkan kebutuhan papan dong?

Realistis aja, kalo pendapatan finansial kita diusia muda sudah mencukupi untuk beli rumah pasti kita beli ko. 

Punya rumah juga harus dipikir lokasi strategis dari tempat kita berkegiatan, terkhusus jika kita memiliki kegiatan di kota besar. Harga rumah di kota besar bukan puluhan juta atau bahkan ratusan juta pun sudah tidak dapat. Dan harus dipirikan jika kita membeli rumah di pinggir kota, bagaimana akses keseharian kita berkegiatan?

Jadi apa masalah jika kita menunda memiliki rumah dan lebih memilih ngontrak atau sewa apartemen dulu dimasa muda? Sembari menabung untuk memiliki rumah yang benar-benar pas untuk keseharian kita.

Lebih tepatnya bukan bergesernya papan dari kebutuhan primer, tapi memasukkan kebutuhan-kebutuhan lain menjadi bagain dari kebutuhan primer. Iya ga sih?

Mungkin jaman batu dulu kebuthan primer hanya pangan. Karena mereka hidup tanpa sandang dan langit merupakan atap mereka tidur. Tapi seiring berjalannya waktu, muncul dosa-dosa yang harus melindungi kita yang katanya berkaitan dengan moral dan etika sehingga hadirlah sandang sebagai kebutuhan primer. Lalu muncul juga batasan-batasan norma sehingga hadir pula papan sebagai kebutuhan primer.

Jadi ga ada salahnya juga kan jaman sekarang muncul kebutuhan-kebutuhan primer baru? Bisa jadi sekarang teknologi merupakan kebutuhan primer. Siapa dijaman sekarang yang bisa bertahan hidup tanpa teknologi?

Atau disisi lain menurut hemat gw, harusnya dari dulu papan itu tidak termasuk kebutuhan primer.

Sejak manusia lahir, kita butuh pangan dan sandang. Yap, gw setuju. Karena tanpa kedua hal itu kita tidak bisa hidup. Tapi papan?

Kita bisa tinggal sama orang tua, kita bisa sewa atau banyak alternatif tempat tinggal lainnya. Lo ngga akan mati hanya karena lo ngga punya rumah 'milik' sendiri kan? Bisa dibilang, rumah itu kebutuhan sekunder sama seperti kendaraan (mobil/motor). Kalo lo ngga punya, lo bisa sewa. Iya ngga sih?

Lebih primer mana, papan atau teknologi?

Lagian secara 'price', papan itu terlalu mahal untuk disandingkan satu paket dengan sandang dan pangan. Rumah itu barang mewah, beda dengan jaman batu dulu. Mungkin jaman batu dulu sandang pangan papan masuk dalam satu paket kebutuhan primer karena ada yang namanya 'gotong royong'.

Jaman dulu orang gotong royong berburu binatang untuk sandang dan pangan satu desa. Jaman dulu orang gotong royong menebang pohon untuk dijadikan papan. Tanpa alat tukar yang namanya uang, mereka cukup gotong royong untuk memenuhi 3 kebutuhan primer mereka. Dan tidak bisa disamakan dengan kondisi sekarang bahkan puluhan tahun silam.

Jadi jangan sekonyong-konyongnya bilang bahwa milenial menggeser papan dari kebutuhan primer karena menang kondisi ini sudah terbentuk bahkan dari puluhan tahun silam. 

Hanya saja saat ini ilmu sosial semakin berkembang sehingga terjadi banyak penelitian yang mengkelompokkan hal ini hal itu sehingga seolah-olah kaum muda sekarang tertekan. Dan hal ini menjadi senjata kaum tua untuk menyerang pola atau gaya hidup kaum muda karena mereka tidak terima dengan kemudahan-kemudahan yang terjadi sekarang. 

Yaaa, ini sih menurut gw. Gw ngomong ini tanpa penelitian hanya berdasarkan pengalaman gw membaca sekilas, berdiskusi singkat dan berfikir sejenak. Jadi ini tanpa referensi khusus, hanya pendapat kaum milenial yang mulai merasa terintimidasi oleh kaum seniornya. Jadi kalo ada yang membaca curhatan gw ini, tolong jangan dijadikan bahan/materi kutipan skripsi. Hahahahahaha...

Tuesday, October 16

KITA BEDA

Gw baru beli tas harganya sejuta.

Bukan mau sombong, cuma mau ngasih tau. Lagian sombong itu relaitf cuy. Bagi sebagian orang tas sejuta itu murah. Tapi bagi sebagian lainnya tas sejuta itu mahal. Ada lagi di bagian lain beranggapan tas sejuta itu biasa. So, gw sombong? Relatif. Tergantung kemampuan lo.

Tapi bukan masalah sombong yang mau gw bahas melainkan masalah gw dan adek gw yang memiliki 2 karakter berbeda. Terkhusus dalam masalah gaya penampilan, sifat bahkan sampai hal memilih dan membeli barang. 

Secara penampilan adek gw itu cukup feminin dan kekinian. Sedangkan gw termasuk yang berantakan dan unik. Gw memilih gaya penampilan sesuai acara, lingkungan, teman pergi dan sangat dipengaruhi oleh mood. Jadi bisa aja dalam sebuah jenis acara yang sama gw tampil rapih anggun dan menawan namun dikesempatan lain gw biasa aja. Semua tergatung mood. Tapi yang pasti gw selalu menyesuaikan dengana acara, cuma auranya aja yang ngga selalu keluar sama. (menurut gw sih)

Masalah sifat? Adek gw cukup ramah dan mudah berbaur dengan yang lain. Lalu agak menye. Sedangkan gw cenderung memilih kepada siapa gw mau berbaur dan galak. Bukannya gw sombong, gw cuma males aja terlalu banyak berkomunikasi dengan mereka yang tidak sejalan. Buang-buang emosi yang ujungnya mengganggu mood.

Tapi gw ngga pernah loh milih temen berdasarkan materi atau fisik. Gw selektif di sifat dan kelakuan. Kalo kelakuannya minus biasanya gw agak jaga jarak. Takut nuler. Hahahahahaha...

Dalam hal memilih, adek gw termasuk orang yang mudah dalam memilih. Sedangkan gw sangat pemilih. Contohnya saat belanja. Adek gw cukup masuk 2-3 toko langsung bisa memutuskan untuk memilih. Kalo gw harus survey dulu ke semua toko dan kemudian memilih mana yang paling unik.

Gw pasti memilih barang yang unik. Karena gw ga suka punya barang yang pasaran. Dan biasanya barang unik dan jarang dimiliki orang itu harganya lumayan mahal. Itu kenapa barang-barang gw bisa dibilang cukup mahal. Mahal disini gw bahas untuk lalangan kelas menengah kebawah ya, karena sebagian besar teman gw kalangan menengah kebawah. Gw belom punya temen yang tajir melintir.

Nah dari hasil observasi singkat ini gw menemukan. Barang-barang adek gw banyak banget tapi cenderung harganya terjangkau. Sedangkan barang gw bisa dibilang cukup sesuai kebutuhan tapi harganya bisa bayar DP mobil kalo dikumpul.

Dan ini berpengaruh pada tata cara memilih pasangan. Mantan adek gw lebih dari gw dan jelek2 banget! Sini kalo ada yang bilang mantan adek gw ganteng, gw kasih obat tetes mata.

Dan mantan gw? Sesuai kebutuhan aja. 

Humm cukup ya, gw ga mau bahas lebih mendalam. Cukup sampai disini saja observasi singkat gw. Karena banyak kalimat tutur kata sopan santu adat istiadat yang harus tetap dijaga. Hahahaha... Bhay!

Friday, September 21

LAGI KERE KEPIKIRAN NIKAH

Gw lagi merasa kondisi keuangan gw seret banget. Tapi barusan gw membaca postingan seseorangan yang berkata "Tuhan tidak memberikan rejeki kurang hanya saja rasa syukurmu yang kurang." Iya bener juga tapi tidak bisa didiamkan. Harus ada tindakan ini, pendapatan gw ngga bisa gini-gini terus.

Gw sedang mengalami rasa terkejut kali ya lebih tepatnya. Karena setahun kemarin gaji gw naik dan pendapatan sampingan gw lancar banget. Sekarang dihadapkan dengan gaji gw turun bahkan tanpa sampingan. Jadi setahun kemarin gw terbiasa hidup dengan pendapatan yang lebih dari cukup.

Padahal gaji gw sekarang lebih besar dari beberapa orang disekitar gw. Dimana mereka masih harus membiayai keluarga mereka. Nah gw membiayai diri gw sendiri masa masih kurang? Benarkan gw kurang bersyukur?

Besar atau kecilnya gaji itu relatif. Gw hanya masih belum terbiasa dari gaya hidup setahun kemarin dan sekarang sedang dalam kondisi hidup pas-pasan.

Hal yang cukup membuat dompet gw tipis adalah dalam tahun ini ada 3 temen gw menikah dan gw dipercaya untuk menjadi bagian dari hari bahahia mereka dengan memberikan gw bahan.

Gw tentu senang dengan hari bahagia mereka dan gw tersanjung bisa menjadi bagian, tapi ga bisa dipungkiri ketika kita terlibat, itu membutuhkan biaya yang tidak sedikit dibandingkan ketika tidak terlibat yang cuma modal amplop ketika datang.

Pengeluaran ketika terlibat pada hari bahagia teman:
1. Jahit kostum, dimana ini harganya menurut gw lumayan menguras gaji gw saat ini.
2. Salon rambut juga lumayan loh.
3. Gw merias muka gw sendiri sih tanpa salon, tapi modal awalnya itu lumayan loh bo! Kalo salah satu perkakasnya habis itu harganya bisa seharga sekali salon. Tapi kan setidaknya bisa dipake ke beberapa kali acara ya alat2 make up ini. Walau intinya tetep mehong karena perkakas2 ini pun selalu habis secara bergantian.

Yah itu lah pengeluarn terbesar gw saat ini yang akhirnya membobol pundi-pundi tabungan gw. Bisa dibilang beberapa bulan kebelakang dan kedepan gw ngga bisa nabung dulu karena pendapatan lagi ngepas banget. Bahkan tabungan semasa rejeki lancar kemarin pun mulai terkuras.

Seperti quotes diatas bilang, syukuri aja. Uang ga bisa dipaksa untuk terus ada tapi rasa syukur harus selalu ada. 

Kemudian gw mendapat surprise lagi bahwa pertengahan tahun depan ada 2 sahabat gw menikah di luar kota. Nah ini lebih mahal lagi, make tiket bo! Kalo gw ngga nabung, ngga akan bisa gw pergi karena ga terbeli tiketnya. Kecuali pendapatan gw kembali membaik.

Yah itu tidak perlu dikhawatirkan lah. Jika Tuhan memberikan gw ijin untuk pergi, maka rejeki itu akan datang dan gw akan menghadiri acara nikahan 2 sahabat gw itu.

Ngomong-ngomong soal nikahan sahabat, ada satu hal yang gw sadari. Jujur gw bahagia begitu tau sahabat-sahabat gw akan menikah. Terlebih mereka menikah dengan pasangan yang mereka cintai ya, belom ada temen gw yang menikah karena paksaan.

Tapi gini. Semua kehidupan setelah menikah itu berbeda. Tidak ada lagi yang namanya nongkrong malem, tidak ada lagi yang namanya jalan-jalan dan liburan gila dengan teman. Setuju? Merupakan sebuah anugerah ketika sudah berkeluarga tapi tetep bisa nongkrong dan liburan bareng temen.

Ini menandakan teman main gw secara resmi berkurang. Yup, itu siklus hidup. Biar ga kehilangan dan merasa sepi sendiri harusnya gw mengikuti jejak mereka. Huff... Kembali lagi masalahnya ke 'pernikahan'. Tapi ya itu lah hidup.

Menikah atau tidak menikah itu menurut gw bukan keputusan tapi takdir. Sesuatu yang sebenarnya tidak bisa kita ambil alih sendiri dengan kemampuan kita. Kalo gw sih maunya menikah, tapi kalo ngga nemu yang pas? Atau kalo ngga ada yang tertarik sama gw, gimana?

Ya kita jalani saja lah. Kalo dibilang gw ngga kepikiran atau ngga mencoba, itu bohong. Gw kepikiran dan gw mencoba kok. Cuma mungkin ngga seheboh yang lain memikirkan dan mencobanya. Gitu lah, bhay!

Saturday, August 11

HARAPAN UNTUK MUI

Beberapa hari terakhir dunia perpolitikan Indonesia tercinta kita cukup menarik, dimana baru saja mendaftarkan diri 2 paslon capres dan cawapres untuk plipres periode 2019-2024. Gw? Tentu dukung Jokowi untuk 2 periode karena lawannya masih sosok yang sama yang tidak ada PERKEMBANGAN dari masa kekalahannya tahun 2014 silam. 

Yang paling menarik, cawapres yang disandingkan oleh Jokowi adalah salah satu sosok ulama yang berperan memecah belah rakyat saat pilkada DKI Jakarta 2017 lalu. Jujur saja awalnya gw kecewa, kenapa jokowi melakukan ini?

Dan pagi ini gw membaca sebuah postingan menarik dari seorang yang tidak gw kenal, inti postingannya seperti ini:

"Jangan pernah berharap Jokowi adu gagasan jika ingin menang dalam konteks pilpres 2019 ini kecuali lawan politiknya adalah lawan yang memiliki kapabilitas sebanding. Coba bayangkan jika cawapres Jokowi adalah Sri Mulyani dan Ma'aruf Amin menjadi cawapres Prabowo. Bisa bayangkan apa isu yang akan diangkat? Berita Sri Mulyani tidak memakai kerudung akan diangkat kepermukaan dan kemudian Jokowi kalah. Sederhananya, rakyat kita sebagian besar masih sebodoh itu."

Omaigat! Ini bener banget. Dan gw ga mau masa pilkada DKI Jakarta terulang hanya karena ngotot sok menjadi idealis. Rakyat DKI Jakarta yang katanya tinggal di kota dengan akses informasi mudah didapat aja masih bisa dibodohi dengan isu seperti itu. Gimana dengan rakyat Indonesia secara luas? Masih banyak rakyat kita yang tinggal di plosok. Dari yang sulit mencari tau hingga yang 'malas' mencari tau, itu semua ada. Tinggal para timses aja bergerak menyuapi mereka. 

Pilihannya:
1. Kasih mereka info dan data
2. Kasih mereka isu-isu SARA
3. Kasih mereka uang

Rakyat yang tinggal diplosok yang tidak tau apa-apa, tiba-tiba diminta suaranya untuk memilih presiden. Maka info-info yang mudah dicerna akan dengan cepat disebarkan oleh masing-masing kubu.

Info yang mudah dicerna? Ya SARA. Kalo mereka yang tinggal di plosok sana diceritakan tentang perkembangan ekonomi, pembangunan infrastruktur, persaingan global, dll mana paham.  Lagian butuh waktu lama untuk memaparkan itu semua. Butuh 1 Semester kalo ibarat kata dunia perkuliahan. Gampangnya ya sebar isu SARA. Atau, kasih uang. Selesai perkara.

Gw berharap dengan dipilihnya ketua MUI ini, tidak hanya sekedar menarik suara 'mereka' tapi bisa meredam perpecahan. Gw sangat berharap beliau bisa menjadi ulama yang turut menegakkan pancasila dan benar-benar membangun islam nusantara bukan islam bar-bar.

Semoga islam nusantara yang mayoritas ini dapat merajut perbedaan yang ada di Indonesia sehingga Indonesia bisa semakin kuat, menjadi bangsa yang besar dan menjadi negara yang disegani. Amin.

Friday, July 13

MAAF JIKA KURANG BERKENAN

Bisa dibilang satu sampai dua tahun kemarin pendapatan sampingan gw cukup lancar, bisa dibilang juga pekerjaan sampingan gw tidak berhenti dan bisa dibilang gw cukup makmur lah.

Namun hal ini membuat gw lengah dalam banyak hal. Gw lengah dalam hal kedekatan gw dengan Tuhan, gw lengah dalam hal menjalin relasi, gw lengah dengan kemampuan gw sendiri. Bisa dibilang gw terlalu sombong dan terbuai karena proyek datang sendiri tanpa gw ngapa-ngapain. 

Dan sekarang gw seret banget tanpa proyek. Proyek dikantor maupun proyek sampingan. Bener-bener ini bikin gw kembali flashback merenungkan kelalaian apa yang sebelumnya pernah gw lakukan sehingga keterpurukan ini terjadi. Hahahaha... Lebai.

Dan ini hasil gw merenung beberapa minggu terakhir. Oh, bahkan ada salah satu klien gw yang menolak melanjutkan kerjaan gw. Huuff...

Begini hasil perenungan gw:

1. Ini memang cara Tuhan untuk menegur gw dari kelalaian yang kemarin-kemarin gw lakukan. Karena saat masa-masa makmur kemarin, kemakmuran gw tidak berdampak untuk sekitar. Ibaratnya, pohon gw tumbuh rindang namun tidak berbuah. Dan 2 minggu terakhir ini, khotbah di gereja bahkan isi renungan harian, berturut-turut menyinggung tentang harta dan kekayaan dunia yang fana. 

Gw cukup pelit banget mengeluarkan uang untuk kebutuhan rumah walau sebenernya orang rumah juga ga butuh duit gw karena nyokap-bokap masih mampu membiayai. Tapi yang gw pelajari dari renungan tersebut, ini bukan sekedar masalah uang namun kepedulian.

2. Masalah kemampuan gw yang sebenernya masih terbatas. Hal ini gw sadari ketika gw tau bahwa drafter (tukang gambar) dikantor gw memiliki kerjaan sampingan yaitu membuat gambar rencana rumah tinggal, masjid, bahkan gedung sekolah. Kerjaan sampingan gw ya sama kayak mereka, tapi harusnya gw bisa lebih dari mereka karena gw Arsitek! Bukan sekedar membuat gambar namun gw harusnya mendesain. Membuat sebuhah solusi dari sebuah gambar bangunan!

Nah disini yang gw lalai dan gw anggap remeh dengan kemampuan gw. Ngapain mereka bayar mahal untuk arsitek memble macem gw kalo hasilnya sama dengan mereka tukang gambar lulusan STM yang modal kursus dan harganya bisa murah meriah?

Selama ini gw santai banget ngerjain semua kerjaan gw dengan anggapan "ah, udah bagus ini." Gw tidak memaksa otak gw untuk berfikir lebih keras menciptakan sebuah desain yang baik. Gw tidak banyak mencari referensi dan gw tidak memaksa diri untuk mencari tau.

Kalo gw biarkan kualitas diri gw seperti ini, ya jangan jual jasa dengan harga tinggi ya kan? Pantes aja kerjaan mandek. Mending mereka bayar yang lebih murah dengan kualitas yang sama. Atau mereka sekalian mencari yang kualitas tinggi. Maksudnya, jangan pasang harga arsitek kalo hasil karya gw masih setara dengan kualitas drafter.

3. Gw kurang baik menjaga relasi. Kadang gw berfikir bahwa gw terlalu keras mempertahankan argumen akan desain yang gw buat sehingga klien jadi males adu argumen dan menerima aja desain gw yang 'biasa banget'. Huumm.. Ini fikiran gw sih. Ga tau bener apa engga.

Kadang gw merasa desain orang keren banget dan desain gw jelek tapi kenapa klien bisa terima desain jelek gw? apa karena mereka males adu argumen sama gw? Hahahaha... Ini gw lagi rendah diri banget sama kemampuan gw yang biasa banget dan orang-orang kemampuannya luar biasa banget. Check portofolio desain gw di instagram [at]rh.prjct, menurut lo desain gw gimana? Biasa banget atau gimana? Hufff...

Karena lalai dan santai, gw sering banget menyerahkan kerjaan gw melewati deadline sehingga klien ngejar-ngejar dan gw jadi males-malesan karena dikejar-kejar. Padahal kan itu hak mereka dan kewajiban gw. Nah karena gw males udah dikejar-kejar akibat kelalaian yang gw buat sendiri, akhirnya gw jadi males bersikap ramah kepada mereka. Itu yang membuat ending dari beberapa pekerjaan gw hanya senyum "yes akhirnya selesai, bhay!" bukan yang senyum "woaaww... karya gw akan dibangun. gw akan mampir untuk silaturahmi ah beberapa bulan lagi.."

Ending pekerjaan gw tidak menjalin kerja sama yang berkelanjutan. Ini parah banget dan memang murni dari gw semua kelalaian ini. 

Cukup lah 3 poin diatas yang menjadi renungan gw beberapa minggu terakhir. Hingga beberapa hari lalu gw mencoba menghubungi salah satu klien gw tentang bagaimana kelanjutan kerjaan gw, namun dia memutuskan untuk menghentikannya karena dirasa kurang cocok.

Jadi gini ceritanya..

Gw diminta untuk membuat 3 dimensi dari sebuah lansekap. Lansekap ini udah ada bentuk 2 dimensinya, gw hanya diminta untuk membuat 3 dimensinya. Maka gw ajukan harga sesuai jumlah gambar atau view yang diminta. Ga begitu mahal lah. Singkat cerita kita deal, dia bayar DP lalu gw mulai kerja.

Gw serahkan pekerjaan pertama gw..

Gw melakukan beberapa modifikasi pada lansekapnya karena menurut gw, 2 dimensinya itu cupu banget cuma kotak-kotak. Gw akui modifikasi gw cukup modern untuk lokasi lansekap yang ada didesa. Lalu dia kritik bahwa tidak perlu modifikasi berlebih, maka gw kurangi.

Semua kritik dari dia gw coba terapakan dalam revisi 3 dimensi berikutnya. Setelah gw revisi sesuai arahannya, gw kirim hasil kerja gw, lalu dia tidak ada kabar.

Gw tunggu hingga beberapa minggu hingga akhirnya gw tanya tentang kelanjutannya. Namun dia bilang tidak cocok dengan gw dan meminta cancel saja pekerjaan ini. Lalu nanya, gw minta uang berapa untuk jasa cancel?

Karena harga diri, gw bilang tidak perlu dibayar jika tidak cocok. Namun gw bertanya, dibagian mana yang kurang cocok? Karena semua arahan dia sudah gw ikuti. Namun tidak ada respon, jadi ya sudah lah.

Mohon maaf jika mengecewakan. Gw sudah coba mengerjakan sesuai arahan, tapi jika tidak cocok, ya maaf. Mungkin ada beberapa masalah tutur kata kita yang kurang cocok sehingga gw kurang menangkap maksud dari arahan2 dia.

Huff... Kurang lebih gitu lah curhatan gw. Lagi menguras tabungan banget nih gw sekarang. Tabungan yang selama ini gw simpan dengan ketat, harus terpakai juga. Semoga sisa tabungan gw yang sedikit ini bisa bermanfaat untuk sekitar deh. Bhay!