Tuesday, October 4

KETIDAK-DISIPLINAN

Hari demi hari gw semakin males berangkat ke kantor. Kenapa? Ya kerena diri gw sendiri yang membuatnya dan sepertinya kantor itu sendiri mendukung gw untuk males.

Gini. Gw menyadari bahwa diri gw tidak begitu dibutuhkan di kantor itu karena gw sendiri yang membuat diri gw seperti itu dengan ketidak-disiplinan gw. Seperti datang terlambat dan beberapa kali bolos tanpa keterangan jelas.

Perbuatan gw itu membuat atasan gw sepertinya enggan memberikan kepercayaan lebih terhadap gw dan jujur gw menikmati itu. Karena apa? Karena tidak ada apresiasi juga ketika kita bisa melakukan lebih. Jadi gw ga punya motivasi untuk berbuat lebih.

Dan pihak kantor bahkan atasan gw tidak pernah menegur gw akan ketidak-disiplinan gw sehingga semakin hari gw semakin bodo amat, tidak peduli dan terlena dalam ketidak-disiplinan ini.

Jujur, ini bukan diri gw. Bukan tipe gw untuk tidak disiplin. Tapi jika keadaan mendukung, maka gw nikmati.

Gw sering kali merasa bersalah ketika datang telat atau ketika bolos. Tapi begitu sampai kantor rasa bersalah itu hilang seakan-akan gw tidak melakukan salah. Padahal baru dateng telat atau baru bolos. 

Kenapa bisa gitu? Ya karena kantor itu mendukung ketidak-disiplinan!

Saturday, September 24

PATAH HATI

Disaat gw sedang bermimpi kelak menikah dengan prosesi pedang pora, lalu ada berita seorang prajurit TNI terbaik mengundurkan diri untuk mencalonkan diri menjadi kepala daerah. Dia terbaik dari penialaian mental, fisik dan intelektual.

Prajurit terbaik seperti itu setau gw otomatis dipersiapkan untuk memimpin negara kelak, tapi ko ini malah disia-siakan cuma untuk memimpin sebuah daerah?

Jujur aja banyak alasan dan pemikiran negatif gw terkait keputusan beliau mengundurkan diri. Sungguh sangat teramat disayangkan.

Politik itu panggung sandiwara. Sejago apapun pelaku seni peran memerankan sebuah karakter, akan lebih mahir mereka para politisi dalam memainkan peran mereka.

Karena tidak hanya mimik, gerak tubuh dan raut muka yang mereka jual namun hati mereka pun mereka jual untuk melakoni peran mereka sehingga sering kita melihat bahwa mereka para politisi sudah tidak lagi memiliki hati.

Sebagai seorang wanita yang sedang bermimpi memiliki teman hidup seorang prajurit, gw sangat patah hati dengan berita ini. Bye.

Friday, September 23

KARTU NAMA

what's up goBLOG!ers??

Jumpa lagi dalam ocehan-ocehan gw dimana kali ini pembahasan gw adalah mengenai "KARTU NAMA". Yeaaahh..

Jadi gini. Gw tergabung dalam kepengurusan sebuah asosiasi profesi yang dimana rekan gw didalam ini adalah sosok wanita berpengaruh di Indonesia yang namanya lebih tenar di luar negeri terkhusus Amerika dibanding di negaranya sendiri Indonesia.

Nah sudah beberapa kali beliau ini mengajak gw untuk ikut dalam kegiatan dia sebagai pembicara dan sebagai penasihat dimana semua acaranya make bahasa internasional yaitu bahasa Batak. Humm ya bahasa Inggris lah ya..

Gw cukup jiper ada disekeliling orang berbahasa yang dari SD sudah gw pelajari namun hingga saat ini usia gw udah didesak kawin itu bahasa tak kunjung fasih di lidah gw. Yang ada di otak gw ketika mereka berbicara bukan menterjemahkan bahasa mereka tapi malah kayak "mampus, gw harus gimana ini? wah parah dia jago banget. duh dia menatap gw, gimana kalo dia ngajak ngobrol gw? Gw harus jawab make bahasa apa?, dan lain sebagainya."

Di otak gw justru bertebaran segalan pemikiran paranoid bukan konsen sama pembahasan lintas bahasa itu. Konyol banget!

Untuk bahasa Inggris, secara garis besar gw paham pembahasan mereka. Tapi gw mati kata kalo diajak ngomong. Untungnya hingga saat ini gw hanya berkomunikasi untuk basa basi "thank you, I dont know, no problem, I can handle it by myself dan kalimat mudah sejenisnya." Hahahaha.. jadi masih aman reputasi gw.

Nah kemarin gw diajak untuk berkenalan dengan direktur baru sebuah tempat di kawasan SCBD Jakarta dimana tempat tersebut merupakan salah satu wadahnya dubes Amerika. Jadi isinya kebanyakan orang Amerika lah. Cuma pelayannya aja gw liat yang orang Indonesia.

Gw diajak ke situ karena tujuannya untuk kenalan dengan beberapa orang yang akan kita ajak dalam acara asosiasi kita. Gitu deh pokoknya.

Nah dan disana mereka semua berkenalan dan saling bertukar kartu nama. Gw yang cuma ngincer wine gratis pun bingung dan merasa awkward karena ga ikut tukeran kartu nama. Merasa butiran debu. Siapa juga gw semisal tiba-tiba dengan PDnya ngasih kartu nama? Hahahahaha...

Lalu gw bingung. Apa sih fungsinya kartu nama di era digital saat ini? 

Karena ga sembarang orang bisa masuk dalam acara bule Amerika itu, maka ada seseorang yang minta kartu nama yang gw dapet tapi gw taro gitu aja di meja kayak ga berharga. Sebegitu pengennya dapet kartu nama direktur baru itu? Buat apa? Alamat dan kontak dia bisa dilihat di website.

Dan setelah gw nanya sama Google apa manfaat kartu nama, akhirnya gw tau bahwa kartu nama memang penting adanya. Mau tau apa pentingnya? Cari sendiri di google.

Apakah gw punya kartu nama? Punya.

Gw pernah menggunakan kartu nama ini ketika seminar untuk pengundian door prize, lalu ketika temen gw minta kartu nama gw buat (katanya) promosi ke temennya, lalu ketika gw kenalan sama tukang.

Lalu gw merasakan khasiatnya? Iya, gw dapet blender saat doorprize seminar tentang SMART CITY di ICE Serpong. Woohoooo.... Bermanfaat sekali, lumayan. Bye!

Monday, September 5

OKE, GW LABIL

Kira-kira sebulan lalu gw memutuskan untuk membuat video weekly vlog dan semalam gw memutuskan untuk berhenti. Apa gw labil?

Gw rasa gw bukan labil, gw cuma ga bisa konsisten. Itu termasuk labil ya? Hahahaha.. Tapi gw punya alasan untuk menentang bahwa kasus gw kali ini bukan termasuk ke'labil'an gw. 

Gini. Gw menyadari bahwa ternyata gw tidak bisa membagi fokus gw ketika gw sedang fokus kerja dan asik dalam kerjaan atau sesuatu untuk menyisihkan waktu sejenak merekam sekitar. Dan ini yang terjadi 2 minggu terakhir dimana gw lagi asik dengan sebuah pemikiran gw dan gw lupa sama sekali untuk rekam-merekam.

Ditambah, sekarang udah ada Instagram Story yang membuat gw lebih suka merekam sesuatu yang sedang terjadi disekitar gw lewat HP aja. Jadi agak repot kalo harus dua kali merekam dan ngeluarin kamera lagi. Cukup jelas kan alasannya dan cukup bisa diterima lah ya untuk menentang bahwa gw ngga labil.

Huff... Semalem gw berdebat sama temen gw mengenai kepribadian gw. Dia bilang bahwa gw labil. Ya terkadang gw juga berfikir demikian. Tapi gw punya alasan untuk semua tingkah (yang katanya) kelabilan gw. Sehingga setiap perbuatan gw itu memiliki alasan jelas, dan menurut gw itu bukan labil. Gw hanya mencoba, kemudian ga cocok, lalu berpaling. Eh itu masuk kategori labil ya? Hahahahaha..

Oke, gw labil. 

Terus ada sebuah statement juga yang bilang bahwa gw itu sensitif. What? Bahkan orang-orang terdekat gw sebelumnya bilang bahwa gw apatis. Apa sensitif dan apatis bisa berjalan beriringan?

Setelah gw renungkan tadi di dalam kereta saat perjalanan ke kantor, gw menyadari bahwa ya, keduanya benar.

Gw sensitif untuk sesuatu yang sedang ada dalam pikiran gw. Semisal gw lagi mikir penghasilan yang tak kunjung membaik, maka gw akan sangat sensitif mendengar sesuatu yang menyinggung tentang itu. 

Dan gw apatis untuk semua hal yang sedang tidak ada dalam pikiran gw. Jadi semisal gw lagi lagi mikir penghasilan dan dibelakang gw ada yang ngejelek-jelekin gw tentang penampilan gw, mungkin gw tidak akan begitu tergubris mengenai itu.

Kecuali ngejelek-jelekinnya kelewatan sampe menimbulkan konflik, nah itu biasanya gw datengin langsung untuk menyikapinya supaya ga berlarut dan ga nambah-nambahin isi pikiran gw secara berlarut juga.

Tuesday, August 23

KURANG GIZI

Gw menyadari kemunduran gw dalam berkata-kata. Entah mengapa kemampuan gw untuk merangkai kata dan untuk sigap merespon dengan kata-kata dalam kurun waktu terakhir ini mengalami kemunduran.

Contohnya gini. Sekarang gw mulai sering untuk menyesali bahwa gw tidak mengucapkan secara langsung sebuah kalimat setelah sebuah percakapan terjadi. Hanjir ini cupu banget. Bukan karena takut merespon tapi seperti terlambat berfikir. Hih, bodoh! Kurang gizi!

Apa karena sekarang gw tidak punya teman debat? Semua orang di sekitar gw lebih baik diam ketika gw mencoba sedikit memberikan prespektif berbeda sehingga tidak ada yang namanya diskusi.

Ini kayaknya yang membuat kemampuan gw dalam berkata-kata jadi berkurang. Atau?

Tuesday, August 9

BANGKIT

Hai goBLOG!, gw baru saja menonton sebuah film karya anak bangsa berjudul BANGKIT. Gw mau berkomentar mengenai karya anak bangsa yang dimana gw hanya manusia biasa yang tidak sempurna, yang hanyai ingin berceloteh. Maka ijinkan saya bercelotah dalam tulisan saya.

Gw kurang suka sebenernya nonton bioskop. Namun semenjak mulai membaiknya perfilman Indonesia, akhir-akhir ini gw mulai cukup sering menonton bioskop dan semua yang gw tonton adalah film hasil karya anak bangsa. Kenapa? Tidak lain dan tidak bukan karena gw mendukung karya anak bangsa. Gw berharap kelak kalo gw memiliki kerya, karya gw juga bisa didukung oleh bangsa sendiri.

Sebangga-bangganya karya kita diapresiasi bangsa asing, lebih bangga jika karya kita diapresiasi bangsa sendiri. Sama halnya, sebahagia apa pun pujian yang kita terima dari orang lain, akan lebih bahagia jika pujian itu kita dapat dari keluarga sendiri.

Memang sekarang sangat mudah mendapatkan film bajakan bahkan saat film tersebut masih diputar di bioskop, bajakannya sudah bisa kita nikmati. Tapi gw berprinsip, gw tidak akan mendownload film bajakan Indonesia sebelum gw nonton di bioskop. Jika filmnya benar-benar bagus baru gw akan download bajakannya untuk nonton ulang. Maap, dukungnya masih setengah-setengah. 

Tapi setidaknya gw apresiasi terlebih dahulu karya orisinilnya. Berbeda dengan film karya anak bule yang dimana kalo ngga karena paksaan temen, gw ga akan nonton itu film di bioskop. Mending gw download bajakannya aja itu karya anak bule. Toh seminggu setelah peluncuran pertama biasanya bajakannya udah bisa kita nikmati. Hihihihihi... Maap ya londo. 

Nah mengenai film BANGKIT yang baru saja gw tonton, meurut gw ini titik awal bangkitnya perfilman Indonesia dimana kini kita sudah mulai berani. Lumayan untuk permulaan. Efek editing, alur cerita, penokohan dan sebagainya sudah lumayan untuk awal.

Kritik gw mungkin gini. Karena gw tau lokasi Jakarta dan dicerita itu Jakarta harus dikosongkan ke luar kota karena imbas badai dari Australia, ini menurut gw aneh. Mau dibawa ke luar kota bagian mana itu warganya? Kenapa yang terimbas parah justru Jakarta, bukan sepanjang pantai selatan atau Bali yang emang deket dengan Australia?

Pemikiran gw yang ini nih yang bikin mindset gw jadi anggap remeh sama isi film, ah rekayasa. Jadi gw ngga mendalami dan masuk terhipnotis dalam alur film.

Lalu gw lihat ada beberapa lokasi yang sama dan dalam waktu yang sama pula diambil lagi untuk settingan berbeda, gempa banjir badai. Jadi gw mikir, lah ini tadi di jembatan yang ini banjir ko sekarang kering tapi gempa? Sejenis-jenis gitu. Dan ini terjadi karena gw udah hatam sama lokasinya yaitu Jakarta.

Coba semisal film karya anak bule. Mau itu lokasi diulang-ulang cuma sudut pengambilannya yang diubah, gw ga aka tau karena gw ga hatam dengan lokasi itu.

Dan kalau pun si anak bule membuat cerita bahwa dari hawaii ke LA itu deket dan angin puyuh bisa berimbas dalam waktu kurang dari 2 jam, gw akan percaya aja karena gw ga tau lokasinya bener apa ngga. Sehingga tanpa mikir dan mengkritisi sendiri dalam otak, gw mengikuti terus alur filmnya dan terhipnotis.

Masalah mindset gw aja sih sehingga kurang menikmati dan kurang terhipnotis alur cerita. Tapi selebihnya udah lumayan oke ko. Vinonya ganteng, istrinya kucel. Hih.

Acha dan Deva oke, memerankan peran melenceng dari kepercayaannya menunjukkan profesionalitas dan semoga ga ada kaum kampungan yang menyingung SARA karenanya. bye.